Dishub Kota Bandung: Skuter Listrik Masuk Kategori Kendaraan Bermotor

Rostika 5 12 19 Indep News
Dishub Kota Bandung: Skuter Listrik Masuk Kategori Kendaraan Bermotor

Peluncuran GrabWheels di Kampus ITB, beberapa waktu lalu. grab.com  


Bhayangkarajabar.id  - FENOMENA penggunaan skuter listrik kini mulai menjamur di Kota Bandung. Di beberapa titik, sudah ada penyewaan skuter listrik dengan tarif yang murah. Namun persoalan muncul ketika skuter listrik digunakan di jalan raya.

Pro kontra pun bermunculan. Ada yang menyebut skuter listrik bukan kendaraan bermotor dan tak bisa digunakan di jalan raya. Namun Dishub Kota Bandung memiliki penilaian lain dan menyebut skuter listrik tergolong kategori kendaraan bermotor.

Dilansir dari galamedianews.com, Kepala Bidang Pengendalian dan Ketertiban Transportasi (PDKT) Dishub Kota Bandung, Asep Kuswara mengatakan, skuter listrik dapat dikategorikan sebagai kendaraan bermotor. Pasalnya skuter listrik telah memenuhi unsur kendaraan bermotor yang diatur dalam Pasal 1 angka 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Selain itu, skuter listrik menggunakan peralatan mekanik berupa mesin, yang dapat digerakkan baik menggunakan bahan bakar listrik, atau kombinasinya. Hal itu sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan.

"Maka penggunaan listrik sebagai sumber penggerak tidak mengecualikan skuter listrik dari ketentuan sepeda motor, seperti dalam UU LLAJ," ungkap Asep saat dihubungi via telepon seluler, Rabu (4/12/2019).

Dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019, lanjut Ase, dikelompokkan sepeda motor sebagai Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Dengan demikian, penggunaan skuter listrik harus didasarkan pada ketentuan yang sama dengan yang berlaku pada sepeda motor.

"Jika ada yang mengatakan bahwa yang dapat dikategorikan sebagai sepeda motor hanyalah kendaraan dengan kecepatan minimal 50 kilometer per jam, itu adalah pendapat yang keliru," terangnya.

Selain itu, menurutnya berdasarkan Pasal 121 PP No 55/2012, menentukan adanya beberapa kelas kendaraan bermotor yang wajib melakukan pengujian. Skuter listrik dapat dikelompokan dalam kelompok L-1, karena didesain dengan kecepatan maksimum 50 km/jam.

"Jadi keliru besar jika skuter listrik diartikan bukan sepeda motor. Karena kriteria dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, skuter listrik dikategorikan sebagai sepeda motor," ujarnya.

Disinggung apakah Dishub Kota Bandung akan membuat jalur khusus bagi pengguna skuter listrik, Asep mengaku belum bisa berkomentar banyak. Pasalnya dalam UU LLAJ tidak ditentukan adanya lajur khusus bagi skuter.

Didalam UU, ungkap Asep, yang diatur yakni lajur khusus untuk kendaraan tidak bermotor, kendaraan umum, dan lajur sepeda. Sehingga pengaturan untuk lajur khusus bagi skuter listrik tidak diatur secara spesifik.

"Maka jalur skuter listrik harus disamakan dengan penggunaan sepeda motor," ujarnya.

Asep menambahkan, skuter listrik juga harus dapat mengangkut penumpang jika dirancang untuk mengangkut penumpang. Akan tetapi jika dirancang untuk 1 orang tidak diperbolehkan untuk mengangkut penumpang. Skuter listrik dapat memiliki setang kemudi, pedal dan alat pengendali lainnya yang dapat bekerja secara maksimal.

"Skuter listrik dapat juga dioperasikan dengan dibantu tenaga manusia, namun tidak diperbolehkan untuk dibawa oleh pengemudi dalam keadaan mabuk atau yang dapat mengganggu konsentrasi dalam mengemudi. Serta lebih aman jika dioperasikan pada jalur tertentu atau kawasan tertentu yang dilengkapi dengan perlengkapan jalan," pungkasnya.

Related Post

Comment